Bab 2
Mesin Jahit Ibu
Pagi harinya, Bu Laila menurunkan mesin jahit tua dari loteng. Debu tebal menempel di penutupnya, tetapi rodanya masih berputar dengan bunyi yang ia kenal sejak gadis.
"Dulu Ibu menjahit seragam satu kampung," katanya kepada Tia yang menonton dengan mata bulat. "Mungkin sekarang waktunya mesin ini bekerja lagi."
Pak Hasan membantu memindahkan meja ke beranda. Ia memasang papan kecil bertuliskan "Terima Jahitan & Permak" dengan cat sisa mengecat pagar tahun lalu. Hurufnya miring, tetapi Tia bilang itu papan paling bagus sedunia.
Pelanggan pertama datang menjelang zuhur: Mbak Sri dari ujung gang, membawa celana seragam anaknya yang robek di lutut. Bu Laila menolak dibayar. Mbak Sri memaksa meninggalkan sepuluh ribu di bawah toples kerupuk.
Sore itu, Pak Hasan duduk lama di dekat mesin jahit. Ia memperhatikan tangan istrinya yang cekatan, lalu menunduk. Ada rasa bersalah yang tidak tahu harus diletakkan di mana.
"Kita ini satu tim, Mas," kata Bu Laila tanpa menoleh. "Hari ini giliran mesin jahit. Besok mungkin giliranmu.