Bab 3
Perpustakaan yang Berantakan
Senin pagi, madrasah meminjam lima puluh buku cerita dari perpustakaan masjid. Yang datang mengambil adalah Fikri, membawa daftar yang disusun terlalu rinci, lengkap dengan nomor rak.
"Nomor raknya sudah berubah sejak tahun lalu, Ustaz," kata Nadia sopan.
"Oh." Fikri memandangi daftarnya seperti memandangi soal ujian yang salah ketik. "Kalau begitu saya susun ulang."
Mereka bekerja tanpa banyak bicara. Nadia menyebut judul, Fikri mencatat. Sesekali Fikri bertanya tentang buku yang cocok untuk anak yang sulit membaca, dan Nadia menjawab dengan semangat yang membuat dirinya sendiri heran.
Saat hendak pulang, Fikri menemukan kertas biru terselip di buku catatan Nadia yang terbuka. Tulisannya sangat ia kenal, karena itu tulisannya sendiri.
Ia tidak berkata apa-apa. Ia hanya menunduk, mengucap salam, dan berjalan lebih cepat dari biasanya. Di jalan, ia menyadari bahwa pemilik doa tentang ibu yang sakit itu kini punya nama.